QRIS CROSS BORDER, SOLUSI JAJAN HEMAT BUAT SEORANG BACKPACKER

 

Sebagai seorang solo backpacker  dengan budget pas-pasan tapi punya niat yang menggebu-gebu untuk melancong ke negara ASEAN yang bebas visa, saya merencanakan perjalanan singkat ke Bangkok, Thailand. Kebetulan saya mendapat tugas untuk berdinas ke Jakarta dari daerah saya yang jauh di ujung timur, yakni Jayapura.

Perjalanan dari Jayapura ke Jakarta cukup jauh dan mahal. Diperlukan waktu terbang kurang lebih 6 jam dan biaya sekali perjalanan lebih dari 6 juta rupiah, Oleh karena itu, mendapat kesempatan berangkat ke Jakarta tidak boleh disia-siakan untuk sekalian melancong ke negara tetangga. Dalam perhitungan seorang pengelana yang berusaha menghemat setiap sen agar bisa tetap traveling, Bangkok adalah pilihan yang terbaik karena budayanya yang menarik, makanannya yang enak dan akomodasi yang murah meriah.

Waktu keberangkatan yang mepet dengan jadwal kegiatan yang padat membuat saya tidak sempat menukar mata uang rupiah ke mata uang bath. Saya hanya sempat menukar sejumlah kecil uang bath di tempat penukaran uang yang berada di sekitar bandara. Rencananya saya akan mencari tempat penukaran uang terdekat di kawasan hostel yang akan saya tinggali.

Ternyata pesawat yang saya tumpangi tiba di bandara Don Mueang pada jam 8 malam. Namun karena antrean imigrasi yang cukup panjang, saya baru dapat keluar dari bandara pada pukul 9 malam. Setibanya di hostel tempat saya menginap, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Gerai penukar uang sudah tutup sementara perut kosong saya mulai memainkan nada-nada orkestra karena belum terisi sejak sore hari. Apa daya uang bath yang saya bawa ala kadarnya itu sudah terpakai untuk ongkos transportasi dari bandara menuju hostel.

Karena hati yang galau terancam bahaya kelaparan sepanjang malam, saya mulai mencari informasi di google tentang segala hal yang menyangkut wisata murah meriah di Bangkok. Betapa senang hati saya ketika menemukan informasi bahwa Bank Indonesia telah meluncurkan QRIS Cross Border di sejumlah negara ASEAN, salah satunya adalah Thailand. Otomatis saya melompat dari pembaringan dan dengan baju santai melangkah ke salah satu gerai penjual makanan dan minuman. Rasa penasaran bercampur dengan harap-harap cemas membuat saya celingukan ketika membuka pintu toko tersebut. Tentu saja yang saya cari adalah kode barcode QRIS di meja pembayaran. Selama ini, pembayaran dengan QRIS telah menjadi solusi bagi para pekerja kelas menengah seperti saya ini dalam melakukan transaksi-transaksi non tunai. Hati saya terasa melompat kegirangan ketika saya melihat barcode QRIS

terpampang nyata di meja pembayaran. Tanpa menunggu lama, dengan penuh keyakinan saya segera menyambar makanan dan minuman kesukaan saya untuk meredakan bunyi-bunyian nada sumbang di perut saya. Jajan enak dan praktis di luar negeri sekarang bukan hal yang mustahil. Sama seperti di negara kita tercinta, kita bisa jajan sepuasnya tanpa repot-repot memegang uang tunai.

Keesokan harinya saya berjalan-jalan ke Pasar Pratunam karena hendak membeli beberapa baju pesanan teman kantor. Teringat pengalaman semalam bagaimana saya terhindar dari kelaparan karena bisa jajan dengan QRIS Cross Border, maka kali ini dengan penuh percaya diri saya masuk ke gerai baju tanpa memegang uang bath. Ternyata sekali ini pun saya dapat bertransaksi di gerai-gerai baju yang terkenal itu tanpa harus repot menukar mata uang  setempat. Bisnis jastip baju-baju Bangkok kecil-kecilan yang saya jalani, menjadi lancar jaya karena adanya QRIS Cross Border dari Bank Indonesia. Tidak bisa terbayangkan sebelumnya kesulitan yang saya alami sebagai seorang daerah yang mepet waktu dan dana bisa menikmati jalan-jalan ke negara tertangga apabila tidak ada alat transaksi non tunai mata uang lokal lewat QRIS. “QRISnya satu, menangnya banyak!”.

(RUTH ELSIE, “participant of BI Digital Content Competition 2023”)


Komentar